Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Perkembangan Islam di Indonesia

Pendekatan Dakwah Wali Songo

Kesuksesan walisongo dalam menyebarkan ajaran Islam bukan serta merta sukses tanpa proses panjang dan perencanaan besar dalam kerangka filosofis. Peleburan diri mereka dengan budaya dan karakter masyarakat Jawa adalah implementasi kongkritnya. Berdasarkan penjelasan di atas, sejarah mencatat bahwa metode dakwah islamisasi walisongo melalui beberapa pendekatan, yaitu:  1. Pendidikan  Para wali, pada mulanya mendirikan tempat ibadah/masjid. Masjid waktu itu bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah semata, tetapi juga sebagai tempat pendidikan agama Islam atau pesantren. Di dalamnya, dengan dipimpin para wali telah banyak berbagai persoalan masyarakat dapat dipecahkan sesuai ajaran Islam. Tidak hanya itu, masyarakat kecil yang buta aksara juga dapat menyentuh dunia pendidikan, mengingat pada saat itu pendidikan hanya dapat dinikmati oleh para keluarga kerajaan. Sunan Ampel misalnya, sangat fokus melakukan dakwah melalui pendidikan dengan membangun pesantren sebagai tempat bela...

Sunan Gunung Jati (w. 1568 M)

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir tahun 1448 M dan wafat pada tahun 1568 M dalam usia 120 tahun. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari Raja Pajajaran Raden Manah Rasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina. Syarif Hidayatullah belajar agama sejak berumur 14 tahun dari ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai Negara. Menurut Kitab Purwaka Caruban Nagari, di Mekah Syarif Hidayatullah berguru kepada Syekh Tajmuddin Al-Kubri selama dua tahun, dan pada Syekh Ataulahi Sadzali yang ber-mazhab Syafi'i selama dua tahun. Selain Mekah, ia juga belajar di Baghdad untuk mondok dan belajar ilmu Tasawuf. Setelah Baghdad, Syarif Hidayatullah melanjutkan perjalanan hingga sampai di Gujarat.  Beberapa saat di Gujarat kemudian Syarif Hidayatullah singgah di Pasai dan sebelum sampai di Cirebon, Syarif Hidayatullah singgah di Banten yang sebagian besar masyarakatnya telah memeluk Islam. Sun...

Sunan Muria (w. 1551 M)

Sunan Muria adalah putra Dewi Saroh dari hasil perkawinannya dengan Sunan Kalijaga. Dewi saroh adalah adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, yang berjarak sekitar 18 kilometer ke utara kota Kudus.  Sunan Muria mencerminkan seorang sufi zuhud, karena ia tidak silau akan gemerlap dunia. Tugasnya sehari-hari mengasuh dan mendidik para santri yang hendak menyelami ilmu tasawuf, didampingi oleh putranya Raden Santri. Seperti halnya sufi lainnya, Sunan Muria mencerminkan pribadi yang sangat mencintai Allah Ta'ala. Sepanjang hidupnya hanyalah untuk beribadah kepada Sang Pencipta. Cahaya pandangan batin beliau senantiasa jauh menembus ke alam yang tidak terjangkau oleh akal pikiran atau logika.  Selain itu, beliau memiliki fisik yang kuat karena sering naik turun Gunung Muria yang tingginya sekitar 750 meter. Bayangkan, jika ia dan istrinya atau muridnya ...

Sunan Kudus (w. 1550 M)

Sunan Kudus nama kecilnya adalah Ja'far Sodiq. Beliau lahir pada pertengahan abad ke-15 M di Demak Jawa Tengah. Ayahnya bernama Raden Usman Haji atau Sunan Ngudung di Jipang Panolan Blora Jawa Tengah. Ibunya bernama Syarifah (cucu Sunan Ampel). Dalam babad tanah jawa, disebutkan bahwa Sunan Ngudung pernah memimpin pasukan Majapahit. Sunan Ngudung selaku senopati Demak berhadapan dengan Raden Husain atau Adipati Terung dari Majapahit. Dalam pertempuran yang sengit dan saling mengeluarkan aji kesaktian itu Sunan Ngudung gugur sebagai pahlawan syahid. Kedudukannya sebagai senopati Demak kemudian digantikan oleh Sunan Kudus. Pasukan Demak hampir saja menderita kekalahan, namun berkat siasat Sunan Kalijaga, dan bantuan pusaka Raden Patah yang dibawa dari Palembang, kedudukan Demak dan Majapahit akhirnya berimbang. Selanjutnya melalui jalan diplomasi yang dilakukan Patih Wanasalam dan Sunan Kalijaga, peperangan itu dapat dihentikan. Adipati Terung yang memimpin laskar Majapahit diajak da...

Sunan Kalijaga (w. 1586 M)

Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1430-an, dihitung dari tahun pernikahan Sunan Kalijaga dengan putri Sunan Ampel. Ketika itu ia berusia 20-an tahun. Sunan Ampel yang diyakini lahir pada 1401, ketika menikahkan putrinya dengan Sunan Kalijaga, ia berusia 50-an tahun. Tetapi ada juga yang mengatakan ia lahir tahun 1450 dan 1455. ayahnya bernama Tumenggung Wilotikto (Adipati Tuhan), dan ibunya bernama Dewi Retno Dumilah. Tumenggung Wilotikto adalah keturunan Ranggalawe yang sudah beragama Islam dan berganti nama menjadi Raden Sahur. Di antara para wali sembilan, beliau terkenal sebagai Seorang wali yang berjiwa besar. Seorang pemimpin, pejuang, mubalig, pujangga, dan filosof. Daerah operasinya tidak terbatas, oleh karenanya ia adalah mubalig keliling. Ketika beliau berdakwah, senantiasa diikuti oleh para kaum ningrat dan sarjana. Raden Said sebenarnya adalah seorang anak muda yang taat kepada agama dan bakti kepada orang tua. Namun beliau tidak bisa menerima keadaan disekelilin...

Sunan Giri (w. 1506 M)

Sunan Giri nama aslinya adalah Raden Paku. Nama ini diberikan Raden Rahmat atau Sunan Ampel sesuai dengan pesan ayahnya sendiri sebelum meninggalkan Jawa Timur. Nama-nama lain Sunan Giri adalah Ainul Yaqin, Abdul Faqih, Prabu Satmata, dan Jaka Samodra; nama ini adalah pemberian ibu angkatnya, ketika beliau masih kecil. Sedangkan mengenai gelar Prabu Satmata sendiri adalah merupakan suatu gelar kebesaran sebagai anugrah Tuhan ketika beliau menjabat sebagai penguasa atau raja di wilayah Giri Gresik.  Sunan Giri lahir di Blambangan Jawa Timur pada tahun 1443 M. Beliau adalah putra dari Maulana Ishak dan ibunya bernama Dewi Sekardadu putra Menak Samboja. Masa kecil Sunan Giri dibawah asuhan ibu angkatnya yaitu Nyi Ageng Pinatih saudagar kaya dari Gresik. Pada umur 12 tahun, ibu angkatnya membawa Sunan Giri ke pesantren Ampel Denta. Di Ampel, beliau menjadi murid kesayangan Sunan Ampel bersama Sunan Bonang, yang tak lain adalah putra Sunan Ampel sendiri. Beberapa ilmu yang dipelajari Su...

Sunan Drajat (w. 1522 M)

Nama aslinya adalah Raden Syarifudin. Sumber yang lain mengatakan namanya adalah Raden Qasim, putra Sunan Ampel dengan seorang ibu bernama Dewi Candrawati. Diperkirakan Sunan Drajat lahir pada tahun 1470 M. Raden Qasim menghabiskan waktu kecilnya di pesantren Ampel Denta, milik ayahnya, Sunan Ampel. Setelah dewasa, Sunan Ampel memberinya tugas untuk berdakwah di daerah sebalah barat Gresik, yaitu daerah antara Gresik dengan Tuban. Perjalanan menuju pesisir Gresik Tuban, Raden Qasim berhasil mendarat di Kampung Jelak Banjarwati Lamongan pada tahun 485 M. Di Kampung Jelak, beliau disambut baik oleh tetua setempat bernama Mbah Mayang Madu dan Mbah Banjar. Konon kedua tokoh kampung tersebut telah diislamkan oleh pendakwah dari Surabaya yang terdampar di sana beberapa tahun sebelumnya. Kemudian Raden Qasim menetap di Jelak, dan menikah dengan Kemuning, puteri Mbah Mayang Madu.  Di Jelak, beliau mendirikan sebuah surau, dan akhirnya menjadi pesantren tempat mengaji ratusan penduduk. Dala...

Sunan Bonang (w. 1525 M)

Sunan Bonang adalah anak dari sunan Ampel, yang berarti juga cucu dari Maulana Malik Ibrahim. Ibunya bernama Nyi Ageng Manila, putri seorang adipati di Tuban. Nama kecil Sunan Bonang adalah Raden Makdum Ibrahim.  Diperkirakan lahir pada tahun 1465 M. Semasa kecil Sunan Bonang sudah mendapat pelajaran dari ayahnya, Sunan Ampel, di pesantren Ampel Denta, dengan disipliIn yang ketat. Setelah dewasa, beliau berdakwah keliling daerah pelosok Jawa. Mula-mula berdakwah di Kediri, yang mayoritas penduduknya adalah beragama Hindu, Di Kediri, beliau mendirikan masjid Sangkal Daha. Setelah itu, beliau menetap di Desa Bonang, Lasem, Jawa Tengah. Di tempat tersebut, Sunan Bonang mendirikan pesantren yang dikenal sebagai Watu Layar. Selain itu, Sunan Bonang juga dikenal sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meski demikian, beliau tidak pernah meninggalkan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sulit dijangkau. Beberapa daerah yang ...

Sunan Ampel (w. 1491 M)

 Sunan Ampel adalah putra Syekh Maulana Malik Ibrahim dari istrinya bernama Dewi Candrawulan. Menurut Babad Tanah Jawi, di masa kecilnya Sunan Ampel dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Sunan Ampel datang ke Pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama adiknya Sayid Ali Murtadho. Sebelum sampai di Jawa, beliau singgah dulu di Palembang pada tahun 1440 M. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia berlabuh ke Gresik. Setelah itu meneruskan perjalanan ke Majapahit untuk menemui bibinya seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bernama Prabu Sri Kertawijaya. Setelah menetap di Jawa, Sunan Ampel kemudian menikah dengan putri adipati Tuban. Dari pernikahannya itu ia dikaruniai beberapa putra putri, antara lain Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Ampel Denta merupakan daerah rawa yang dihadiahkan raja Majapahit kepadanya. Di t...

Maulana Malik Ibrahim (w. 1419 M)

Nama lengkapnya adalah Maulana Mahdum Ibrahim as-Samarkandy , diperkirakan lahir di Samarkand Uzbekistan Asia Tengah, pada paruh pertama abad ke-14 M. Beliau mempunyai hubungan kerabat dengan Maulana Ishak, seorang ulama ternama di Samudera Pasai yang merupakan ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ishak dan Ibrahim adalah anak ulama Persia bernama Maulana Jumadil Kubra, yang bertempat tinggal di Samarkand. Beliau diyakini sebagai generasi ke-10 dari Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad Saw. Maulana Malik Ibrahim pernah bertempat tinggal di Campa, Kamboja, selama 13 (tiga belas) tahun, mulai tahun 1379 sampai 1392 M, dan menikah dengan putri raja Campa. Dari perkawinan ini lahir dua putra yaitu Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadho (Raden Santri).  Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, pada tahun 1392 M. Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya. sebelum beliau datang, Islam sudah ada, walaupun belum berkembang, ini dibuktikan dengan a...

Wali Songo dan Islamisasi

Proses islamisasi di Indonesia tak lepas dari peran walisongo, khususnya di Jawa. Penyebaran agama Islam di Jawa tersebut terjadi pada waktu kerajaan Majapahit runtuh disusul kemudian dengan berdirinya kerajaan Demak. Era tersebut merupakan masa peralihan kehidupan agama, politik, dan seni budaya. Di kalangan tingkat penganut agama Islam di tingkat atas terdapat sekelompok pemuka agama dengan sebutan Wali. Zaman itu pun dikenal sebagai zaman kewalen. Para wali tersebut dalam tradisi Jawa dikenal sebagai "Wali Songo" , yang merupakan lanjutan konsep pantheon dewa Hindu yang jumlahnya Juga sembilan orang.  Wali Songo secara sederhana artinya sembilan orang yang telah mencapai tingkat wali, suatu derajat tingkat tinggi yang mampu mengawal babahan hawa sanga (mengawal sembilan lubang dalam diri manusia), sehingga memiliki peringkat wali. Para wali tidak hidup secara bersamaan. Namun satu sama lain memiliki keterkaitan yang sangat erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hub...

Saluran-saluran Islamisasi Di Indonesia

Kedatangan Islam dan penyebarannya, baik kepada para bangsawan dan masyarakat umum di Indonesia dilakukan secara damai. Terdapat enam saluran dan cara islamisasi di Indonesia, yaitu:  1. Saluran Perdagangan  Pada tahap permulaan, proses penyebaran Islam dilakukan dengan cara perdagangan. Hal ini dapat diketahui melalui adanya kesibukan lalu lintas Perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16; Menurut Tome Pires, aktivitas Perdagangan ini banyak melibatkan bangsa-bangsa di dunia, termasuk bangsa Arab, Persia, India, Cina dan lain-lain. Di pesisir pulau Jawa, terdapat banyak para pedagang muslim bermukim, mereka berhasil mendirikan musholla-musholla, masjid-masjid dan bahkan mendirikan pondok-pondok atau lembaga pendidikan Islam. Mereka juga mendatangkan mullah-mullah dari luar, sehingga jumlah mereka semakin hari bertambah banyak.  Perdagangan dimanfaatkan setiap saudagar muslim sebagai sarana atau media untuk berdakwah. Dalam ajaran Islam, setiap muslim mempunyai kewajiban unt...

Tahap-tahap Perkembangan Islam di Indonesia

Berbeda dengan sejarah masuknya Islam ke beberapa negara lain, masuknya Islam ke Nusantara melalui jalan damai, dan hal ini tidak dipungkiri oleh pihak manapun. Penyebaran agama Islam ke wilayah ini melalui tahapan-tahapan panjang, sehingga menjadikan mayoritas penduduknya memeluk agama Islam.  1. Kehadiran Para Pedagang Muslim (7-12 M)  Tahap ini merupakan periode permulaan kedatangan para pedagang, dan sosialisasi Islam di kawasan Asia Tenggara, khususnya Nusantara, yang dimulai dengan kontak sosial budaya antara para pendatang muslim dengan penduduk setempat. Pada tahapan ini, seperti yang telah dikemukakan, bahwa diduga para pedagang muslim sudah mulai berdagang mulai abad ke-7 M. Dalam fase perdagangan ini, para saudagar muslim juga melakukan dakwah Islam dengan cara damai, sehingga memudahkan mereka untuk mensosialisasikan ajaran-ajaran Islam pada masyarakat lokal.  2. Terbentuknya Kerajaan-kerajaan Islarn (13-16 M)  Setelah komunitas Islam merasa kuat dan mapa...

Sejarah Masuknya Islam Di Indonesia

Sejumlah intelektual telah mengemukakan teori sekitar masuk dan tersebarnya Islam di Nusantara. Meski tidak ada kesepakatan tentang kapan Islam tersebar di wilayah ini dan siapa yang paling berjasa dalam proses islamisasi, tidak dapat dipungkiri bahwa Islam tersebar di wilayah ini dengan cara-cara damai dan tidak memakai jalan kekerasan. Para sarjana berbeda pendapat tentang tiga hal, yaitu kapan islamisasi wilayah Nusantara, dari mana Islam berasal, dan siapa penyebar Islam. Dalam menjawab pertanyaan pertama, para sarjana berpendapat terentang antara abad kedelapan sampai lima belas Masehi. Sementara untuk pertanyaan kedua, perbedaan di antara mereka antara Arab, Persia, Gujarat, India Selatan dan Bengal. Sedangkan pertanyaan terakhir, para sarjana berbeda antara para pedagang muslim atau pendakwah/sufi. Terdapat tiga pendapat tentang masuknya Islam ke Indonesia, yaitu:  Pendapat pertama; Pijnappel, guru besar University of Leiden, berpendapat bahwa Islam dibawa ke Nusantara oleh ...